Rabu, 11 Januari 2012

Sumber Sumber Dakwah

SUMBER-SUMBER DAKWAH

BAHAN-BAHAN DAKWAH

Salah satu pencerahan yang dibawa oleh Islam bagi kemanusiaan adalah pemikiran secara ilmiah, masyarakat Arab dan Timur tengah pra Islam tidak memperdulikan persoalan- persoalan mengenai alam semesta, bagaimana alam tercipta dan bagaimana alam bekerja, maka dari sinilah mereka belajar merenungi pertanyaan-pertanyaan ini dan untuk mencari jawabannya tentang itu semua mereka merujuk kepada Al Qur’an dan Hadits-hadits nabi. Didalam Al Qur’an, Allah memerintahkan memikirkan bagaimana langit dan bumi tercipta, cara fikir ini menggerakkan bangkitnya ilmu pengetahuan dalam peradaban Islam. Ini adalah pengembangan ilmu pengetahuan yang istimewa dalam sejarah dunia, terutama tentang alam semesta.

Baghdad menjadi ibukota ilmu pengetahuan dalam imperium Islam selain ibu kota pemerintahan, ilmuan, filusuf dan para peneliti berkumpul dibaghdad dari keempat penjuru dunia Islam, dan bertemu di baitul Hikmah (pusat pengkajian ilmu pengetahuan) dikala itu yang terkenal disana untuk mengungkapkan rahasia alam semesta yang Allah ciptakan.

Kesadaran para ilmuan muslim yang bersumber dari Al Qur’an memicu pencapaian terbesar dalam ilmu pengetahuan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya, sifat lain yang diajarkan oleh Al Qur’an kepada kaum muslim adalah keterbukaan fikiran, yang memungkinkan mereka mendapatkan ilmu pengetahuan dari peradaban lain tanpa prasangka.

Karya-karya kaum muslimin berisi jumlah besar penelitian, pengamatan, percobaan dan perhitungan. Sebagai cotoh, sistem desimal yang sekarang digunakan diseluruh dunia dikembangkan oleh ahli matematika muslim, dan juga ilmuan muslim memandang sangat penting pengamatan dibidang astronomi, sedangkan astronomi modern dikembangkan dari sistem mereka, ilmuan muslim juga menghitung peredaran bulan mengitari bumi dan mencatat rumus matematikanya, Aljabar dan trigonometri adalah temuan pakar matematika muslim. Karya-karya arsitektur yang mengagumkan di empat penjuru Islam dimungkinkan oleh perangkat ilmiah ini

Sejumlah prestasi kaum muslimin yang paling memukau adalah dibidang kedokteran, dimasa ketika orang eropa menganggap penyakit disebabkan oleh roh jahat, perawatan bukanlah sebuah kata yang dapat ditemukan dalam kosa kata pemikiran orang-orang Eropa, dilain pihak melalui penelitian mendalam, ilmuan muslim menyimpulkan Bahwa penyakit disebabkan oleh makhluq yang terlalu kecil untuk dilihat, dan bahwa pasien harus dirawat ditempat terpisah dari yang lainnya yang masih sehat, dari sinilah rumah sakit modern pertama didunia didirikan, pasien dirawat dan ditampung secara ilmiah dalam kamar-kamar tepisah tergantung jenis penyakit yang mereka derita. Pasien yang menderita penyakit jiwa mereka mendapatkan terapi musik ketika pada masa Eropa, dan mereka menganggap orang-orang yang sakit jiwa sebagai hamba setan dan harus dibakar hidup-hidup.

Pengamatan dokter-dokter muslim terhadap anatomi manusia sangatlah tepat sehingga hasilnya dijadikan buku-buku rujukan di sekolah-sekolah kedokteran Eropa selama lebih dari enam abad silam. Dokter-dokter Islam juga mengukur denyut nadi pasien ketika sedang memeriksa mereka, dan ini dilakukan berabad-abad sebelum orang eropa tahu tentang peredaran darah, wanita melahirkan dalam keadaan yang paling hieginis yang dimungkinkan masa itu, dilihat dari benuk peralatan yang ada menunjukan betapa majunya peradaban dalam bidang kedokteran.

Pada masa itu wanita juga dididik disekolah-sekolah ilmu pengetahuan didunia Islam dan turut bersumbang untuk kemajuan ilmu pengetahuan.
Ilmuan muslim menemukan sejumlah penemuan-penemuan yang sangat penting dalam bidang optik dan cahaya. Orang yang pertama yang meggambarkan anatomi mata dengan sangat terperinci adalah ahli optik yaitu Ibnu Al Haitsam, penelitiannya yang diakui dalam bidang lensa membuka jalan bagi penemuan kamera. Dokter-dokter muslim juga menemukan penyebab kerusakan penglihatan dan melakukan operasi katarak yang berhasil beberapa abad sebelum Eropa.

Warisan ilmu pengetahuan Islam menjadi sumber pencerahan Eropa dimulai pada abad ke-15, ilmuan nasrani melakukan pengembangan ilmu pengetahuan Eropa dengan ilmu pengetahuan yang mereka dapat dari rekan rekan muslim mereka, cahaya Islam menerangi mereka pula.

Maka dari sini kita dapat melihat dengan jelas bahwa Islam merupakan agama yang sangat maju dalam bidang ilmu pengetahuan, jadi Islam bukanlah sebatas ibadah dan shalat saja tetapi Islam adalah kaffah (menyeluruh).

Menurut Ali Syariati, Al-Qur’an merupakan firman Allah yang sangat komprehensif, yang menjadi sumber inspirasi bagi manusia dalam semua lini kehidupan. Hal ini dapat dilihat dari klasifikasi al-Qur’an yang dibuat olehnya.

NO KLASIFIKASI SURAT JUMLAH SURAT PROSENTASE
1 Fenomena Alam dan Materi 32 26.66 %
2 Aqidah dan Aliran Pemikiran 29 24.14 %
3 Sosial dan Politik 27 22.5 %
4 Sejarah dan Filsafat Sejarah 17 14.14 %
5 Perilaku dan Akhlak 4 3.3 %
6 Masalah Harta 4 3.3 %
7 Ibadah dan Syiar Agama 2 1.7 %

Sumber : Ali Syariati, 1995 : 35


AL-QUR’AN DAN HADITS ADALAH SUMBER ILMU PENGETAHUAN

Prinsip tauhid di dalam Islam, menegaskan bahwa semua yang ada berasal dan atas izin Allah SWT. Dia-lah Allah SWT yang maha mengetahui segala sesuatu. Konsep kekuasaan-Nya juga meliputi pemeliharaan terhadap alam yang Dia ciptakan. Konsep yang mengatakan bahwa Allah SWT lah yang mengajarkan manusia disebutkan dalam Al-Quran. (Q.S. AL-Baqarah: 31,239. Q.S. AR-Rahman : 2 & Q.S.Al-alaq 5-4)

Di dalam ayat lain 5:1-4 disebutkan bahwa “Dia telah mengajarkan Al-Qur’an kepada manusia dan mengajarinya penjelasan (bayan)”

Wahyu, yang diterima oleh semua Nabi SAW berasal dari Allah SWT, merupakan sumber pengetahuan yang paling pasti. Namun, Al-Quran juga menunjukkan sumber-sumber pengetahuan lain disamping apa yang tertulis di dalamnya, yang dapat melengkapi kebenaran wahyu. Pada dasarnya sumber-sumber itu diambil dari sumber yang sama, yaitu Allah SWT, asal segala sesuatu. Namun, karena pengetahuan yang tidak diwahyukan tidak diberikan langsung oleh Allah SWT kepada manusia, dan karena keterbatasan metodologis dan aksiologis dari ilmu non-wahyu tersebut, maka ilmu-ilmu tersebut di dalam Islam memiliki kedudukan yang tidak sama dengan ilmu pengetahuan yang langsung diperoleh dari wahyu. Sehingga, di dalam Islam tidak ada satupun ilmu yang berdiri sendiri dan terpisah dari bangunan epitemologis Islam, ilmu-ilmu tersebut tidak lain merupakan bayan atau penjelasan yang mengafirmasi wahyu, yang kebenarannya pasti. Di sinilah letak perbedaan epistemologi sekuler dengan epistemologi Islam.

Sumber-sumber pengetahuan lain selain yang diwahyukan langsung misalnya fenomena alam, psikologi manusia, dan sejarah. Al-Quran menggunakan istilah ayat (tanda) untuk menggambarkan sumber ilmu berupa fenomena alam dan psikologi (2:164, 42:53).

Untuk sumber ilmu berupa fenomena sejarah, Al-Quran menggunakan istilah ‘ibrah (pelajaran, petunjuk) yang darinya bisa diambil pelajaran moral (12:111).


Sebagai akibat wajar dari otoritas ketuhanannya, al-Quran, di samping menunjukkan sumber-sumber pengetahuan eksternal, ia sendiri merupakan sumber utama pengetahuan. Penunjukkannya terhadap fenomena alam, peristiwa sejarah, metafisis, sosiologis, alami dan eskatologis mesti benar, apakah secara literal atau metaforis. Kaum muslimin mengambil sIStem dan subsistem pengetahuan dan kebudayaan dari al-Quran. Dokumen paling otentik tentang subyek ilmu pengetahuan (di mana al-quran sebagai katalisator) dapat ditemukan dalam al-Burhan fi ‘Ulum al-Quran karya Badruddin al-Zarkasyi.

Di dalam Islam, pencarian pengetahuan oleh seseorang bukanlah sesuatu yang tidak mungkin, tetapi harus, dan dianggap sebagai kewajiban bagi semua Muslim yang bertanggung jawab. Kedudukan ini berbeda dengan sikap skeptis Yunani dan Sophis, yang menganggap pengetahuan hanya imajinasi kosong.

Dalam bahasa Arab, pengetahuan digambarkan dengan istilah al-ilm, al-ma’rifah dan al-syu’ur. Namun, dalam pandangan dunia Islam, yang pertamalah yang terpenting, karena ia merupakan salah satu sifat Allah SWT. Al-ilm berasal dari akar kata l-m dan diambil dari kata ‘alamah, yang berarti “tanda”, “simbol”, atau ”lambang”, yang dengannya sesuatu itu dapat dikenal. Tapi alamah juga berarti pengetahuan, lencana, karakteristik, petunjuk dan gejala.. Karenanya ma’lam (amak ma’alim) berarti petunjuk jalan, atau sesuatu yang menunjukkan dirinya atau dengan apa seseorang ditunjukkan. Hal yang sama juga pada kata alam berarti rambu jalan sebagai petunjuk. Di samping itu, bukan tanpa tujuan al-Quran menggunakan istilah ayat baik terhadap wahyu, maupun terhadap fenomena alam. Pengertian ayat (dan juga ilm, alam, dan ’alama) di dalam al-Quran tersebut yang menyebabkan Nabi SAW mengutuk orang-orang yang membaca ayat 3:190-195 yang secara jelas menggambarkan karakteristik orang-orang yang berfikir, mambaca, mengingat ayat-ayat Allah SWT di muka bumi tanpa mau merenungkan (makna)nya.


Sifat penting dari konsep pengetahuan dalam al-Quran adalah holistik dan utuh (berbeda dengan konsep sekuler tentang pengetahuan). Pembedaan ini sebagai bukti worldview tauhid dan monoteistik yang tak kenal kompromi. Dalam konteks ini berarti persoalan-persoalan epistemologis harus selalu dikaitkan dengan etika dan spiritualitas. (Dalam Islam) ruang lingkup persoalan epistemologis meluas, baik dari wilayah (yang disebut) bidang keagamaan dengan wilayah-wilayah (yang disebut sekuler)., karena worlview Islam tidak mengakui adanya perbedaan mendasar antara wilayah-wilayah ini. Adanya pembedaan semacam itu akan memberi implikasi penolokan hikmah dan petunjuk Allah SWT, dan hanya memberi perhatian dalam wilayah tertentu saja. Wujud Allah SWT sebagai sumber semua pengetahuan, secara langsung meliputi kesatuan dan integralitas semua sumber dan tujuan epistemologis. Ini menjadi jelas jika kita merenungkan kembali istilah ayat yang menunjuk pada ayat-ayat al-Quran dan semua wujud di alam semesta.

Konsep integralitas pengetahuan telah diuraikan al-Ghazali dalam kitabnya Jawahir al-Quran, di mana ia menegaskan bahwa ayat-ayat al-Quran yang menguraikan tentang bintang dan kesehatan, misalnya, hanya sepenuhnya dipahami masing-masing dengan pengetahuan astronomi dan kesehatan. Ibnu Rusyd dalam fasl al-maqal, juga memberikan penjelasan keterkaitan antara penafsiran keagamaan dan kefilsafatan dengan mengutip beberapa ayat al-Quran yang mendorong manusia meneliti dan menggambarkan kajian penciptaan langit dan bumi (7:185, 3:191, 88:17-18).

Dengan hal yang sama, al-Quran juga mendorong manusia melakukan perjalanan di bumi untuk mempelajari nasib peradaban sebelumnya. Ini membentuk kajian sejarah, arkeologi, perbandingan agama, sosiologi dan sebagainya secara utuh.

Dalam 41:53, secara kategoris, al-Quran menegaskan bahwa ayat-ayat Allah SWT di alam semesta dan di kedalaman batin manusia merupakan bagian yang berkaitan dengan kebenaran wahyu, dan menegaskan kecocokan dan keutuhan yang saling terkait. Namun, keutuhan dan kesatuan cabang-cabang pengetahuan ini tidak berarti bahwa disiplin-disiplin itu sama, atau tidak ada prioritas diantara mereka. Pengetahuan wahyu dalam konsep Islam adalah lebih utama, unik karena berasal langsung dari Allah SWT dan memiliki manfaat yang mendasar bagia alam semesta. Semua pengetahuan lain yang benar harus membantu kita memahami dan menyadari arti dan jiwa pengetahuan Allah SWT di dalam al-Quran untuk kemajuan individu dan masyarakat.
 
sumber internet :http://mddakwah2010-isnaini.blogspot.com/2010/12 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar